Senin, 07 Mei 2018

Inilah korea ?

NAMA :ALDI BAGUS PERNANDA
NIM     : 175231123
KELAS :PBS 2 D


                       

KIMCHI

Untuk tugas kali ini yaitu mata kuliah Metodologi Study Islam kali ini. Saya mendapatkan tugas dimana tugas ini sangat berbeda dari tugas yang lain, bagi saya tugas kali ini sangatlah istimewa dibandingkan tugas yang lain. Tugas istimewa tersebut ialah pergi ke restoran Korea untuk mencicipi makanan korea, sekaligus mengobservasi makanan, serta suasana yang ada di dalam restoran tersebut. Sebelumnya saya sangat berterima kasih kepada bapak M. Endy Saputro,M.A. selaku dosen pembimbing mata kuliah Metodologi Study Islam di kampus yang menjadi kebanggan yaitu IAIN Surakarta dimana tepatnya di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. Beliau memberikan tugas kepada kelompok saya yang berjumlah tiga orang untuk mengunjungi sebuah restoran Korea yang letaknya berada di jalan Veteran No. 190 Solo. Restoran tersebut namanya adalah “Kimchi Korean Restorant” di situ terdapat makanan korea.
 Awal sebelum diberikan tugas ini saya dan kelompok saya berharap agar mendapatkan tempat yang tidak terlalu mahal, karena dapat diketahui sendiri kami sebagai mahasiswa uang jajan saja dan itu sangat pas. Dan jalan satu-satunya yaitu kita harus mengumpulkan uang atau menabung dengan cara bekerja, ada yang bekerja setiap sabtu yaitu ikut catering dan saya sendiri harus dengan cara berjualan mie ayam. Karena menurut kami pastinya kalau makanan di situ itu mahal,
 Sisi lain mendapatkan tugas ini mengajarkan bagaimana cara mendapatkan uang dan bagaimana cara agar bisa irit, karena untuk bisa makan di restoran ini juga harus membawa uang yang sekiranya lebih. Setelah kami bertiga mendapatkan dana, kamipun akhirnya menentukan waktu yang tepat untuk pergi ke Kimci Korean restorant. Setelah diperhitungkan dalam mencari hari yang tepat kami akhirnya memilih hari rabu untuk melakukan kunjungan ke Kimci Korean Restoran. Pada hari rabu, selesai mata kuliah Akhlaq dan tasawuf tepatnya pukul 14.00 WIB kami bertiga berangkat menuju lokasi. Kami bertiga sudah berencana dari awal untuk membuat video vlog. Dari mulai pemberangkatan kami sudah mempersiapkan video.
Dengan bermodalkan tekat dan nekat kami tetap berangkat meskipun tidak tahu jalan menuju lokasi. Solusinya pun akhirnya kami mengajak salah satu teman perempuan kami yang merupakan satu kelas untuk diajak ikut ke restoran. Teman perempuan saya bernama Aprina Widyasari, dia merupakan penggemar berat artis korea dan dia juga hobby menonton drama korea. Itulah yang melatarbelakangi dia sebelumnya pernah makan di Kimci Korean Restoran yang ada di jalan veteran No 190 Solo. Karena dia saat berkunjung ke restoran sudah cukup lumayan lama, maka dari itu kami diperjalanan sampai kelewatan dan akhirnya kami putar balik.
Akhirnya tak menjelang lama kami sampai di Kimci Korean Restorant, kami memarkirkan motor di depan restoran. Awal pertama saya memandang restoran tersebut membuat saya kurang yakin dengan dana yang saya miliki. Restoran itu terlihat besar dan sangat mewah, tidak seperti tempat makan saya sehari-hari yang hanya di angkringan. Ketika membuka pintu yang terbuat kaca, saya sudah merasakan kesejukan yang mungkin akan membuat setiap konsumen merasa nyaman di dalam ruangan. Di atas pintu juga terlihat tulisan “Halal” dengan ukuran yang lumayan besar. Dengan restoran yang berlabel halal membuat saya tidak takut dan gelisah dalam sebuah kebimbngan hati. Di bagian dalam juga tertata meja serta soffa yang empuk, mungkin itu akan membuat konsumen merasa lebih nyaman selain udara yang sejuk.
Pertama kali masuk, kami langsung duduk di meja pojok tanpa harus bingung memilih tempat. Setelah duduk, kami langsung dilayani oleh pelayan cantik yang menebarkan senyuman manis, dan sapaan selamat datang kepada kami yang siap mencatat pesanan. Namun kami justru kebingungan dalam memilih menu yang tertera di dalam buku daftar menu makanan. Nama makanan yang sangat asing serta gambarnya yang jarang saya temui itu, memunculkan rasa takut pada diri saya. Selain itu masalah harga juga salah satu yang menjadi alasan dalam memilih menu makanan. Bukan karena takut tidak bisa membayar, dan kemudian disuruh mencuci piring karena tidak mampu membayar. Namun yang saya takutkan adalah makanan yang saya pesan tidak cocok dengan lidah saya. Akhirnya kami bertiga menyerahkan menu yang akan kami pesan itu kepada teman perempuan kami, karena dialah yang lebih berpengalaman dalam masalah ini.
Disisi  kebingungan memilih pesanan makanan, saya mencoba mau membuat video. Meski para pengunjung lainnya melihat saya dengan sinis dan seakan-akan saya di mata mereka adalah orang aneh, namun saya tetap percaya diri tanpa harus memikirkan apa sikap orang terhadap saya. Namun terdapat beberapa kendala yang muncul tanpa disadari. Kapasitas memori pada handphone saya ternyata penuh sehingga tidak dapat menampung dan menyimpan video berdurasi panjang.  Selain itu juga saya juga kehabisan daya batre pada handphone yang digunakan untuk merekam video. Karena rekaman berakhir sebelum saya selesai observasi di tempat tersebut sehingga saya memutuskan untuk membuat essay, dan mungking ini jalan satu-satuny.
Kami memesan makanan yang berbeda beda, agar kita dapat saling tukar menukar untuk merasakan makanan yang berbeda. Saya memesan Korean Fried Chicken dengan minum ice Lemon tea, Said memesan Chon Bokki dengan minuman Ice Markisa tea sedangkan Aprina memesan Dolsot Bibimbap dengan minum ice lemon tea, Faizhal memesan jajang Myeon dengan minum ice chocolate. Sambil menunggu pesanan kami dihidangkan tiga makanan pembuka serta minuman pesanan kami. Salah satu makanan pembuka itu adalah kimci, ternyata kimci dibuat dari potongan sawi yang diberi sambal namun yang anehnya ketika saya mencicipinya bukan pedas namun rasanya justru kecut, dan di mulut berasa dingin seperti makan es. Selain kimci makanan hidangan lainnya yaitu makaroni lembek yang dicampur dengan mayones. Setiap anak juga di siapkan mangkuk kecil, entah untuk apa saya juga tidak tahu.
  Setelah menunggu makanan pun datang dan di hidangkan di depan kami, dengan cara dihidang masih dalam keadaan hangat. Saya pun langsung mencoba makanan tersebut, Saya juga mencicipi makanan pesanan teman- teman, dari mulai korean jejen myeon, chon bokki sampai dolsot bibimbap. menurut saya korean chon bokki itu sama dengan punya saya, hanya bedanya jika chon bokki itu ada tambahan kentangnya. Rasa dari kedua makanan itupun sama seperti fried chicken di pinggir jalan, namun hanya berbeda bentuknya saja yang terlihat bulat- bulat spesial dengan butiran wijen diatasnya. Saya juga mencicipi makanan pesanan Aprina yang menurutnya adalah makanan yang paling enak dan favorit baginya. Makanan yang terfavorit baginya itu adalah dolsot bibimbap. Saat lidah saya mencicipi dolsot bibimbap rasanya sangat aneh, karena salah satu bahanya adalah telur yang masih mentah. Rasanya juga pedas, dengan banyak isi di dalam mangkoknya. Isi dari dolsot bibimbapitu sendiri yaitu kecambah, wortel, mie, kentang, telur mentah yang di campurkan dan daging serta ditaburi rempah-rempah di atasnya. Dan saya mencoba makanan punya Faisal dan saya merasa makanan tersebut seperti mie gepeng yang ada di pinggir jalan.
 Setelah beberapa menit akhirnya makanan saya pun habis karena menurut saya porsi tersebut pas dan cocok untuk mengisi perut saya. Akan tetapi saya masih di suruh bantuin Faisal untuk menghabiskan makanannya, setelah itu saya bantuin tetapi selalng beberapa sendok saya merasa ingin muntah entah kenapa soalnya rasa makanan tersebut terlalu manis. Dan akihirnya pun kita semua telah menghabiskan makanan. Setelah selesai, pelayan datang ke meja kami dengan membawa nota pembayaran. Kami mengumpulkan uang menjadi satu untuk membayar dan untung saja uang kami tidak kurang justru masih mendapat kembalian. Total pembayaran yaitu Rp. 161.000,00 untuk semua makanan yang telah kami pesan. Kemudian kami keluar dan membayar palkir yang dibandrol harga Rp 3000,00 per unit sepeda motor.
  Menurut saya sebagai mahasiswa muslim dalam menganut agama jangan menganggap itu segalanya bid’ah. Hanya karena alasan tidak ada di zaman Nabi Muhammad lalu menganggap bahwa itu tidak sesuai. Jika sebagai umat islam seperti itu, apalagi kita adalah mahasiswa lalu bagaimana dengan cara kita mengikuti perkembangan zaman yang ada. Jika kita tidak bisa mengikuti perkembngan zaman yang ada lalu kita pasti akan ketinggalan zaman. Selama segala sesuatu itu masih berada di jalan yang benar dan tidak menyimpang lebih baik kita bisa menerima semua itu.
  Sebagai mahasiswa muslim tidak ada salahnya jika kita mencicipi dan datang ketempat yang berasal dari bangsa asing. Selama sesuatu itu masih berada di jaan kebaikan dan yang terkandung oleh makanan itu halal, maka itu semua tidak salah. Namun perlu diingat bahwa sebagai mahasiswa kita juga harus bias mengatur uang, jangan bersikap boros dan berlebihan. Sebagai generasi penerus kita itu harus banyak berusaha bukanya justru berfoya-foya dan bersenang-senang.
  Selain itu korea terkenal di Indonesia karena para artisnya yang tampan dan cantic sehingga tidak heran para penduduk Indonesia terutama mahasiwa di Indonesia banyak yang menggemari para artis Korea. Dari mulai melihat di film drama korea, hingga di dunia music seperti k-pop. Kemunculan awal di Indonesia itu sekitar tahun 2000 dan sekarang jutru penggemar artis Korea semakin banyak. Maka dari itu di Indonesia banyak tempat ala Korea, seperti restoran, took baju dan taman yang dihias seakan-akan berada di korea. Semua itu karena di pengaruhi oleh penggemar yang jumlahnya sangat meluap di Indonesia
Kimci merupakan nama dari salah satu makanan Korea yang dijadikan sebagai nama restoran di Solo. Di dalam restoran korea ini menghidangkan berbagai aneka makanan Korea, dari yang paling murah di bandrol dengan harga 25 ribu sampai ratusan ribu. Kimci Korean Restorant termasuk ke dalam restoran kelas menengah ke atas. Dilihat dari tampilan tempatnya terlihat mewah dan penuh fasilitas yang nyaman. Dari mulai pintu, meja, sofa dan juga dilengkapi dengan AC. Kimci Korean Restorant yang ada di jalan veteran ini bebas dari bahan makanan yang haram, berbeda dengan restoran kimci yang asli ada di Korea. Meski awal dibukanya restoran ini dulu menyediakan minuman beralkohol, namun sekarang pemilik restoran sudah tidak menyediakan minuman beralkohol tersebut. Pemilik restoran menyadari bahwa, para konsumen yang datang sebagian besar beragama islam sehingga menghindari segala sesuatu yang berbau haram. Meski pengunjung atau konsumen tidak semua beragama islam, namun pemilik restoran lebih memilih menghindari segala bahan yang haram agar para pengunjung yang datang diharapkan lebih banyak. Harga makananya jika di bandingkan dengan restoran kimci yang lain menurut constumes servise nyalebih murah, dengan fasilitas yang juga disediakan itu tidak dianggap mahal.